Jumat, 14 September 2012

Rebana Terbaru Solichin Toip Bumiayu | Jurus Barakah Kyai Bagian II

Suara Tunggal Bahana (STB) - Kuningan adalah salah satu kabupaten di provinsi Jawa Barat, dengan beribukotakan Kuningan. Posisi astronomisnya di antara 108°23" - 108°47" Bujur Timur, dan 6°45" - 7°13" Lintang Selatan. Kabupaten ini terletak di bagian Timur Jawa Barat yang berbatasan langsung di sebelah Utara dengan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) di Timur, Kabupaten Ciamis di Selatan, serta Kabupaten Majalengka di sebelah Barat (wikipedia.org).
 
Iklimnya cenderung sejuk dan dingin. Stb pernah merasakan hidup di daerah ini selama kurang lebih 1 tahun lamanya. Juga pernah merasakan dinginnya angin malam di atas bangku kosong yang sengaja ditinggalkan pedagang di siang hari, di atas trotoar sisi Masjid Agung Kuningan, ketika dagang keliling menjajakan alat musik Rebana.
 
Yang demikian adalah pengalaman hidup yang luar biasa, setidaknya menurut Stb, demi mengangkat eksistensi Rebana yang hampir punah. Juga demi status ekonomi dan sosial keluarga Stb yang terpuruk, karena dampak krisis ekonomi global 1998.

Strategi Pemasaran
Dagang keliling memberikan memberikan banyak nilai positif_meskipun saat itu keuntungan dari dagangan yang terjual masih hanya cukup untuk makan dan akomodasi saja. Namun nilai keuntungan yang bersifat spiritual dan immaterial memiliki jumlah yang tak ternilai. Salah satu pengalaman pemikiran yang Stb dapatkan adalah adanya strategi baru dalam menjaring pemakai dan penikmat musik Rebana yang selama ini tidak Stb ketahui, yaitu pangsa pasar baru. Harap maklum, Stb bukanlah lulusan sarjana ekonomi ataupun jurusan kebisnisan.
Realitanya, perkembangan yang sedang terjadi di luar daerah, terutama di beberapa pesantren yang notabene sebagai basis seni Islam itu dikibarkan, ternyata berbeda jauh dari produk instrumen musik yang selama ini dibuat di daerah kami di desa Kaliwadas, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah
Dengan kata lain, jenis produk Rebana di Bumiayu di tahun 2000-an awal masih tidak banyak pilihan, yaitu hanya Rebana Srokal, Diba, dan Qasidah Samrah saja, Rebana Hadroh Banjari seperti produk Gresik dengan berbagai variasinya belum diproduksi. Peminatnya pun mayoritas orang tua, sehingga pangsa pasarnya sangat terbatas. Meskipun demikian, produk Rebana Qasidah tidak di temukan selain produksi dari Bumiayu.

Rebana di Era Presiden BJ Habibie dan Gus Dur 
Maka, prioritas ekspansi baru produk Rebana segera disusun dan kerjakan. Ketika pengrajin lain belum mengetahui dan memproduksi, Stb segera bekerja keras membuat Rebana Hadrah plus Kolaborasi Bass-nya yang sedang booming di pondok-pondok pesantren tersebut.
 
Strategi marketing pun segera dilakukan, meskipun dengan cara sederhana. Berhasilkah? Alhamdulillah, lambat laun nilai jual Rebana Stb mulai terangkat lagi. Para pembeli pun mulai berdatangan ke desa kami.
 
Maka, para penikmat alat musik Shalawat (Seller) yang kebetulan tidak langsung datang ke rumah kami, otomatis tetap akan menggunakan produk Stb juga, meski tanpa merek Solichin Toip. Karena pengrajin lain, khususnya toko-toko musik yang berada di pinggir jalan desa, tetap akan datang membeli produk Stb untuk melayani calon seller tersebut. Namun lambat laun mereka pun mulai membuat produk yang sama.
 
Booming Rebana Banjari ini terjadi di era Presiden ketiga BJ Habibie atau awal 1999 hingga dilanjutkan di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
 

0 comments: