Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2018

Arti Idul Fitri dalam Bahasa Arab | Solichin Toip

Suara Tunggal Bahana - Makna lafadz Idul Fithri memang bukan kembali menjadi suci. Meskipun memang ada sedikit kemiripan dari dua kata itu, namun sebenarnya keduanya punya makna yang lain.

Justru karena kemiripan inilah makanya banyak orang keliru memaknainya. Bahkan para reporter televisi nasional kita pun latah ikut-ikutan keliru juga. Malah tidak sedikit para ustadz dan penceramah yang ikut-ikutan menyebarkan kekeliruan massal ini ini tanpa tahu ilmu dan sumbernya.

Makna 'Ied' Bukan Kembali

Kata 'Ied' (عيد) dalam Iedul Fithri sama sekali bukan kembali. Dalam bahasa Arab, Ied (عيد) berarti hari raya. Bentuk jamaknya a'yad (أعياد). Maka setiap agama punya Ied atau hari raya sendiri-sendiri.

Dalam bahasa Arab, hari Natal yang dirayakan umat Nasrani disebut dengan Iedul Milad (عيد الميلاد), yang artinya hari raya kelahiran. Maksudnya kelahiran Nabi Isa alaihissalam. Mereka merayakan hari itu sebagai hari raya resmi agama mereka.

Hari-hari kemerdekaan suatu negeri dalam bahasa Arab sering disebut dengan Iedul Wathan (عيد الوطن). Memang tidak harus selalu hari kemerdekaan, tetapi maksudnya itu adalah hari besar alias hari raya untuk negara tersebut.

Lalu kenapa banyak orang mengartikan Ied sebagai 'kembali'?

Nah, itulah masalahnya. Banyak orang kurang mengerti bahasa Arab, sehingga bentuk sharf dari suatu kata sering terpelintir dan terbolak-balik tidak karuan.

Dalam bahasa Arab, kata kembali adalah 'aada - ya'uudu -'audatan (عاد - يعود - عودة). Memang sekilas hurufnya rada mirip, tetapi tentu saja berbeda jauh maknanya dari 'ied. Jadi kalau maksudnya mau bilang kembali, jangan sebut 'ied tetapi sebutlah 'audah.

Sayangnya, banyak ustadz, kiyai dan penceramah yang rada gegabah dalam masalah ini. Sudah salah dan keliru, bicaranya di layar kaca pula, ditonton jutaan pasang mata orang awam. Maka kekeliruan itu pun terjadi secara 'masif, terstruktur dan sistematis'.

Makna Kata Fithri Juga Bukan Suci

Dalam bahasa Arab kita mengenal dua kata yang nyaris mirip tetapi berbeda, yaitu fithrah (فطرة) dan fithr (فطر).

1. Makna Fithrah

Yang pertama adalah kata fithrah (فطرة). Jumlah hurufnya ada empat yaitu fa', tha', ra' dan ta' marbuthah. Umumnya fithrah diartikan oleh para ulama sebagai kesucian atau juga bermakna agama Islam. Seperti hadits berikut ini :

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأْظْفَارِ وَغَسْل الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإْبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ
Ada sepuluh hal dari fitrah (kesucian), yaitu memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukup bulu kemaluan dan istinjak (cebok) dengan air. ” (HR. Muslim).

Dan juga bermakna agama Islam, sebagimana hadits berikut ini :

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ وُلِدَ عَلىَ الفِطْرَةِ أَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِهِ
Tidak ada kelahiran bayi kecuali lahir dalam keadaan fitrah (muslim). Lalu kedua orang tuanya yang akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi. (HR. Muslim)

2. Makna Fithr

Sedangkan kata fithr (فطر) sangat berbeda maknnya dari kata fithrah. Memang sekilas keduanya punya kemiripan. Tetapi coba perhatikan baik-baik, ternyata kata fithr itu hurufnya cuma ada tiga saja, yaitu fa', tha' dan ra', tanpa tambahan huruf ta' marbuthah di belakangnya.

Apakah perbedaan huruf ini mempengaruhi makna?

Jawabnya tentu saja mempengaruhi makna. Keduanya punya makna yang berbeda dan amat jauh perbedaannya.

Dalam bahasa Arab, kata fitrh (فطر) bermakna makan atau makanan dan bukan suci ataupun keislaman. Pembentukan kata dasar ini bisa menjadi makan pagi, yaitu fathur (فطور), dan juga bermakna berbuka puasa, yaitu ifthar (إفطار).

Disinilah banyak orang yang rancu dan kurang bisa membedakan makna. Dikiranya fithr itu sama saja dengan fithrah. Sehingga dengan ceroboh diartinya seenaknya menjadi kembali kepada fitrah.

Coba perhatikan, betapa banyak kita menyaksikan kekeliruan demi kekeliruan yang dipajang dengan bangga, padahal keliru. Baliho yang dipasang,

kartu ucapan selamat, bahkan SMS yang dikirimkan, termasuk televisi nasional ramai-ramai menganut kekeliruan massal ini, tanpa pernah teliti dan bertanya kepada ahlinya.

Makna Idul Fithr

Kalau kita jujur dengan istilah aslinya, sesungguhnya kata 'Idul Fithri' itu bukan bermakna kembali kepada kesucian. Tetapi yang benar adalah Hari Raya Makanan.

Dan hari raya Islam yang satunya lagi adalah Idul Adha, tentu maknanya bukan kembali kepada Adha, sebab artinya akan jadi kacau balau. Masak kembali kepada hewan qurban? Idul Adha artinya adalah hari raya qurban (hewan sembelihan).

Bahwa setelah sebulan berpuasa kita harus kembali menjadi suci, mencusikan hati, mensucikan pikiran dan mensucikan semuanya, tentu memang harus. Cuma, jangan kemudian main paksa istilah yang kurang tepat. Mentang-mentang kita harus kembali suci, lalu ungkapan 'Idul Fithri' dipaksakan berubah makna menjadi 'kembali suci'.

Hari Raya Makan?

Ya memang sejatinya pada hari itu umat Islam diwajibkan untuk makan dan haram untuk berpuasa. Berpuasa para tanggal 1 Syawwal justru haram dan berdosa bisa dilakukan.

Dan sunnahnya, makan yang menjadi ritual itu dilakukan justru sebelum kita melaksanakan shalat Idul Fithri. Lihat tulisan sebelumnya :  Makan Dulu Sebelum Shalat Iedul Fithri

Dan oleh karena itulah kita mengenal syariat memberi zakat al-fithr, yang maknanya adalah zakat dalam bentuk makanan. Tujuannya sudah jelas, agar tidak ada yang tersisa dari orang miskin yang berpuasa hari itu dengan alasan tidak punya makanan. Dengan adanya zakat al-fithr, maka semua orang bisa makan di hari itu.

Dan hari raya umat Islam disebut dengan 'Iedul Fithr, yang secara harfiyah bermakna hari raya untuk makan.

Keluarga besar Suara Tunggal Bahana mengucapkan;
SELAMAT HARI RAYA 'IDUL FITRI 1439 HIJRIYYAH
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
Sumber : KH. Aminuddin Masyhudi
Pengasuh PPM Darunnajat
Tegalmunding, Pruwatan, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah

Rabu, 06 Februari 2013

Hukum Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW

STBSuara Tunggal Bahana - Dalam Hadits Qudsi dikatakan:

لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ يَا مُحَمّد لما خَلَقْتَ الأَفْلَاك  

Artinya: Jika bukan karena engkau wahai Muhammad, tidak akan Aku ciptakan alam semesta ini.

لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ يَا مُحَمّد لما خَلَقْتَ الأَفْلَاك

Sumber: https://nu.or.id/khutbah/kelahiran-rasulullah-anugerah-terbesar-allah-h1rSb


___
Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/i
Bulan Rabi'ul Awwal atau populer disebut bulan Maulid telah memasuki hari yang ke 26.  Artinya bulan Maulid di tahun ini sudah di penghujung waktu, detik-detik akhir. Namun sebagai umat yang mencintai  pimpinannya  hendaknya kita tidak hanya bershalawat dan memuji-muji beliau pada bulan kelahirannya saja. Sepanjang hari dan bulan hiasilah hidup dengan shalawat. Tiada  hari tanpa shalawat, demikian yang pernah kami dengar dari seorang guru agama.
 
Setiap kali bulan kelahiran Rosulullah ini datang, kalangan pencinta Rasulullah marak menggelar acara Maulid. Dari yang sederhana seperti pembacaan maulid Ad-Diba, Barzanzi, dan kitab-kitab maulid lainnya, setiap hari di surau-surau, mesjid di Majlis Taklim, sampai yang besar-besaran seperti yang digelar di lapangan terbuka. Di acara ini dapat dipastikan kemarakannya selalu diselingi dengan shalawat dan irama rancak  rebana Hadrah, Qasidah sampai Marawis.
 
Namun yang sangat disayangkan, meski telah berlangsung ratusan tahun, belakangan muncul kelompok yang menentang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurut mereka, perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan pembacaan riwayatnya cenderung menjerumuskan umat Islam kepada pengkultusan, bid'ah dan lain sebagainya.

Allah SWT dan Para Malaikat Bershalawat kepada Rasulullah SAW
Rasulullah SAW sendiri memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa di hari kelahirannya yaitu hari senin. (Adakah kebaikan yang kita lakukan di hari kelahiran kita sendiri?)
 
Apa yang kita lakukan selama ini untuk menghormati Rasulullah SAW  belumlah mencukupi sebagaimana penghormatan yang dilakukan oleh Allah SWT (Sang Penciptanya) dan para Malaikat-Nya, seperti yang dimaksud dalam surat Al-Ahzab : 56 
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
" Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. "
     Penghormatan Allah dan para Malaikat-Nya adalah bentuk kebanggaan, pengagungan atau penghargaan kepada sosok Rasulullah karena akhlak dan budi pekertinya yang amat luhur. Sedangkan penghormatan kita kepada beliau adalah wujud pengucapan ' terima kasih ' atau pemuliaan karena jasa-jasanya dalam membawa Risalah Islam.

Memuliakan Rasulallah Tidak Bermakna Menyembahnya.
     Dalam surat Al-Insyirah ayat 3 disebutkan,  " Dan telah Aku tinggikan penyebutanmu. " 
Ayat tersebut memperkenankan kita mengagungkan Rasulullah selama tidak menyamakan kedudukannya dengan Sang Maha Tunggal Allah SWT. Pengagungan itu tidak boleh bertentangan dengan ketetapan Allah. Misalnya mengatakan bahwa Muhammad adalah anak Allah_seperti yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani_sebagaimana ditulis dengan cukup indah oleh Imam Bushairi dalam Maulid Burdah-nya ;
Dialah sosok yang sempurna makna dan bentuknya
Yang kemudian dipilih menjadi kekasih Sang Penghembus angin sepoi-spoi
Pengungkapan kebaikannya terjaga dari kemusyrikan 
Maka mutiara keindahan tak terbagi
Tinggalkanlah apa yang dikatakan kaum Nasrani tentang Nabi-nya
Dan pujilah ia (Rasulullah) semaumu asal masih dalam batasan hukum itu
Maka nisbatkanlah kemuliaan dan keagungan apapun yang kau kehendaki kepadanya


Ditulis dari berbagai sumber oleh Solichin Toip

Kamis, 17 November 2011

Hukum Rebana dalam Islam | Solichin Toip

kitab alBarzanji.
Suara Tunggal Bahana - Ide postingan ini berasal dari hasil ngalap berkah ke Pengasuh Pondok Pesantren PPM Darunnjat Bumiayu, Jawa Tengah KH. Aminuddin Masyhudi. Harapannya tentu semoga membawa manfaat bagi pembaca sekalian, khususnya pecinta alat musik Rebana. Aamiiin...
     " Jika kamu menadapatkan pesanan dari rekanan bisnismu, tapi kemudian dia menjualnya dengan membohongi pembeli soal harga, kualitas atau lainnya, maka janganlah kamu ikut-ikutan mendukung kebohongannya....
Niat kamu membuat dan menjual rebana adalah dalam rangka mengikuti sunnah Rasulullah SAW yang notabene di dalamnya dibacakan Shalawat Nabi.... " demikian antara lain inti nasehat beliau.
 
 
Hadits Tentang Rebana
     Kemudian beliau mengeluarkan sebuah kumpulan kitab karangan Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari yang berisi 19 kitab. Salah satu di antaranya tertera nama kitab Tanbihaatul-Waajibaat. Di halaman 16 tertulis Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi: 

(فى الأصح)  لخبر الترمذى وابن حبــان انـه صلى اللـه عليـه وسلـم لمـا رجـع الى المـديـنة من بعـض مغـازيـة قـالت لـه جـاريـة  سـوداء اني نـذرت ان ردك اللـه سـالمــا أن اضـرب بيـن يـديـك بالدف فقـال لهـا ان كـنت نذرت فأوفي بنـذرك وهذا يشهـد  لبحـث الـبلقـينى أن ضـربـه لنحـوقـدوم عـالـم أو سلطـان لاخلاف فيـه.....
 
" Diceritakan dalam Hadits Shahih Imam Turmudzi dan Ibnu Hibban r.a., bahwa sesungguhnya ketika Rasulullah SAW kembali ke kota Madinah dari salah satu peperangan dengan kaum kafir ( Perang Uhud ) seorang budak perempuan berkulit hitam datang menjumpai beliau dan berkata: " Ya Rasulallah, sesungguhnya hamba telah bernadzar ( bersumpah ) bahwa jika Allah mengembalikan hamba dari peperangan ini ( Uhud ) dengan selamat maka hamba akan memukul rebana di hadapan Tuan. " Maka Rasulullah bersabda kepadanya: " Jika kamu telah bernadzar demikian maka laksanakanlah nadzarmu. Sesungguhnya memukul rebana untuk menghormati kedatangan seorang alim atau pemerintah itu tidak ada pertentangan di dalamnya ( bukan khilafiyah )..."  
 
Wallaahu a'lam.
Nara Sumber: 
KH. Aminuddin Masyhudi
Pengasuh PPM. Darunnajat
Pruwatan, Bumiayu, Jawa Tengah
dari Kitab at-Tanbihaatu-l-Waajibaat  Hal : 16
Kumpulan kitab karya :
Hadratus-Syaih KH. Muhammad Hasyim Asy'ari
(Pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng dan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama)