Rabu, 06 Februari 2013

Hukum Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW

STBSuara Tunggal Bahana - Dalam Hadits Qudsi dikatakan:

لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ يَا مُحَمّد لما خَلَقْتَ الأَفْلَاك  

Artinya: Jika bukan karena engkau wahai Muhammad, tidak akan Aku ciptakan alam semesta ini.

لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ يَا مُحَمّد لما خَلَقْتَ الأَفْلَاك

Sumber: https://nu.or.id/khutbah/kelahiran-rasulullah-anugerah-terbesar-allah-h1rSb


___
Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/i
Bulan Rabi'ul Awwal atau populer disebut bulan Maulid telah memasuki hari yang ke 26.  Artinya bulan Maulid di tahun ini sudah di penghujung waktu, detik-detik akhir. Namun sebagai umat yang mencintai  pimpinannya  hendaknya kita tidak hanya bershalawat dan memuji-muji beliau pada bulan kelahirannya saja. Sepanjang hari dan bulan hiasilah hidup dengan shalawat. Tiada  hari tanpa shalawat, demikian yang pernah kami dengar dari seorang guru agama.
 
Setiap kali bulan kelahiran Rosulullah ini datang, kalangan pencinta Rasulullah marak menggelar acara Maulid. Dari yang sederhana seperti pembacaan maulid Ad-Diba, Barzanzi, dan kitab-kitab maulid lainnya, setiap hari di surau-surau, mesjid di Majlis Taklim, sampai yang besar-besaran seperti yang digelar di lapangan terbuka. Di acara ini dapat dipastikan kemarakannya selalu diselingi dengan shalawat dan irama rancak  rebana Hadrah, Qasidah sampai Marawis.
 
Namun yang sangat disayangkan, meski telah berlangsung ratusan tahun, belakangan muncul kelompok yang menentang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurut mereka, perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan pembacaan riwayatnya cenderung menjerumuskan umat Islam kepada pengkultusan, bid'ah dan lain sebagainya.

Allah SWT dan Para Malaikat Bershalawat kepada Rasulullah SAW
Rasulullah SAW sendiri memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa di hari kelahirannya yaitu hari senin. (Adakah kebaikan yang kita lakukan di hari kelahiran kita sendiri?)
 
Apa yang kita lakukan selama ini untuk menghormati Rasulullah SAW  belumlah mencukupi sebagaimana penghormatan yang dilakukan oleh Allah SWT (Sang Penciptanya) dan para Malaikat-Nya, seperti yang dimaksud dalam surat Al-Ahzab : 56 
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
" Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. "
     Penghormatan Allah dan para Malaikat-Nya adalah bentuk kebanggaan, pengagungan atau penghargaan kepada sosok Rasulullah karena akhlak dan budi pekertinya yang amat luhur. Sedangkan penghormatan kita kepada beliau adalah wujud pengucapan ' terima kasih ' atau pemuliaan karena jasa-jasanya dalam membawa Risalah Islam.

Memuliakan Rasulallah Tidak Bermakna Menyembahnya.
     Dalam surat Al-Insyirah ayat 3 disebutkan,  " Dan telah Aku tinggikan penyebutanmu. " 
Ayat tersebut memperkenankan kita mengagungkan Rasulullah selama tidak menyamakan kedudukannya dengan Sang Maha Tunggal Allah SWT. Pengagungan itu tidak boleh bertentangan dengan ketetapan Allah. Misalnya mengatakan bahwa Muhammad adalah anak Allah_seperti yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani_sebagaimana ditulis dengan cukup indah oleh Imam Bushairi dalam Maulid Burdah-nya ;
Dialah sosok yang sempurna makna dan bentuknya
Yang kemudian dipilih menjadi kekasih Sang Penghembus angin sepoi-spoi
Pengungkapan kebaikannya terjaga dari kemusyrikan 
Maka mutiara keindahan tak terbagi
Tinggalkanlah apa yang dikatakan kaum Nasrani tentang Nabi-nya
Dan pujilah ia (Rasulullah) semaumu asal masih dalam batasan hukum itu
Maka nisbatkanlah kemuliaan dan keagungan apapun yang kau kehendaki kepadanya


Ditulis dari berbagai sumber oleh Solichin Toip

0 comments: