Tampilkan postingan dengan label Jurus Barakah Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurus Barakah Kyai. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2016

JURUS BARAKAH KYAI BAGIAN XVII : CURHAT KE RASULULLAH SAW

Mekkah kota Moderen nan Fenomenal
     Mekkah adalah merupakan salah satu kota besar di Saudi Arabia. Semua tahu tempat yang paling terkenal dan paling menarik adalah Mesjidil Haram dengan bangunan Ka'bah yang menjadi kiblat bagi seluruh umat Islam serta batu hitam atau Hajar Aswadnya yang fenomenal, menyedot jutaan umat Islam untuk berebut menciumnya.

Minggu, 11 September 2016

JURUS BARAKAH KYAI BAGIAN XVI: SYAHDUNYA PADANG ARAFAH

Hamba, adalah seorang di antara total dhuyufurrakhman sejumlah enam juta duaratus limapuluh ribuan jamaah haji yang ikut berjubel-jubel di

Senin, 15 Agustus 2016

Jurus Barakah Kyai Bagian XV : Mengunjungi Negeri Rasulullah

Walimatus Safar 11DQ1437-14082016
Tubuh ini rasanya bergetar hebat. Getaran yang sangat terasa, sehingga menelusup ke relung hati yang terdalam. Bukanlah qalbun apalagi dada, tetapi alfakir meyakini ini adalah getaran di kedalaman fuadzku!

Minggu, 10 Mei 2015

Jurus Barakah Kyai Bagian XIV : Hikmah Ayat Realisasi Syukur kepada Allah, Rasulullah dan Orang yang Membutuhkan

Mensyukuri nikmat Allah adalah merupakan bagian yang tidak boleh dipisahkan dan dilupakan oleh setiap muslim yang bertakwa. Orang yang pandai bersyukur ibarat seorang pengusaha yang pandai mengolah modalnya sehingga usahanya terus berkembang. Dan orang yang tidak

Minggu, 07 Desember 2014

Jurus Barakah Kyai Bagian XIII : Impian Menuju Sukses

Tahun 1986-an yang silam seorang ibu seraya tersenyum penuh harap mengungkapkan keinginannya agar anaknya kelak bisa sesukses anak tetangganya yang sering dilihatnya berangkat membawa barang dagangan, di pagi hari. Ia melihat anak tetangga itu begitu sukses, dengan melihat bukti

Minggu, 07 September 2014

Jurus Barakah Kyai Bagian XII: Pertanyaan-Pertanyaan Pelanggan Baru

Tanya jawab yang biasa terjadi antara seorang pelanggan baru dengan kami (Suara Tunggal Bahana);
     " Kenapa pesan alat musik ke Suara Tunggal Bahana harus transfer uang muka terlebih dahulu? "

Rabu, 20 Agustus 2014

Jurus Barakah Kyai Bagian XI : Rezeki Tak Tertukar

Nakalnya Pengrajin Rebana
Tidak sedikit calon pelanggan baru dengan tujuan hendak memesan atau membeli alat musik produk STB namun kemudian

Selasa, 06 Mei 2014

Jurus Barakah Kyai Bag. X: Bisnis Kepercayaan

     Semenjak situs www.solichin-toip.com dipublikasikan pada tahun 2009 yang lalu alhamdulillah pelanggan-pelanggan baru dari berbagai daerah di Indonesia khususnya, mulai berdatangan dan mempercayakan pemesanan berbagai instrumen musik pada home industry kami Suara Tunggal Bahana (STB). Dari mulai alat musik tradisional Islami seperti aneka jenis rebana hingga yang modern seperti Marching Band. Dari yang mulai berhubungan via internet kemudian dilanjutkan dengan kopi darat, sampai yang

Kamis, 26 Desember 2013

Jurus Barakah Kyai Bagian IX : 9 Tips Menuju Sukses

     Saat ini banyak sekali beredar buku-buku tentang tips dan trik menuju sukses, baik yang dijual di toko-toko maupun akses gratis on line via internet. Mulai dari pengarang ataupun pebisnis lokal, nasional hingga mancanegara. Dari kaum pribumi, taipan hingga pebisnis bule_yang mayoritas menceritakan

Senin, 06 Mei 2013

Jurus Barakah Kyai Bag. VIII: Ikhlas, Sabar dan terus Berikhtiar Menjadi Kunci Sukses Berbisnis

Toko Musik " Solichin Toip Bumiayu " di Jalan Buntet Pesantren Cirebon cabang pertama kami. Dibuka mulai 01 Agustus 2018
     Segala puji menjadi hak Allah SWT. Maka hanya kepada-Nyalah harusnya kita memuji. Allah adalah Tuhan semesta alam. Dia Sang Pencipta dan Pemilik seluruh kerajaan langit dan bumi. Tidak ada kejadian apa pun yang menimpa

Senin, 12 November 2012

Jurus Barakah Kyai Bagian VI; Dilema Pengrajin Baru


Dilema Pengrajin Baru, Pemodal dan Pembeli Rebana
     Lebih dari limapuluhan orang menggantungkan hidupnya dengan menjadi pengrajin alat musik di desa Kaliwadas, kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Masing-masing memiliki ciri khas sendiri baik mengenai produk, harga, kualitas dan

Selasa, 09 Oktober 2012

Jurus Barakah Kyai Bagian V : Sejarah Rebana

Instrumen rebana di Kaliwadas adalah hasil kreatifitas Bapak Madali dan Toip [ almarhumaa ] di sela-sela waktu senggang mereka dari bertani dan menghadapi situasi paceklik, zaman perjuangan negara Indonesia menuju kemerdekaannya, tahun 1945.

Sabtu, 29 September 2012

Jurus Barakah Kyai Bagian IV: Hadrah Mapsi Jawa Tengah

     Awal 2000-an, alat musik rebana Mapsi (Mata Pelajaran Seni Islam) yang merupakan seni musik ekstrakulikuler di sekolah-sekolah dasar dan lanjutan pertama di Jawa Tengah mulai ramai dibicarakan. Dan, lagi-lagi, update produk dari industri alat musik di desa Kaliwadas, Bumiayu tertinggal dari produk daerah lain.
     Maka, kami segera menghubungi beberapa net work di beberapa daerah untuk mencari informasi sedetil mungkin mengenai alat musik yang kerap dilombakan mulai tingkat antar sekolah, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi Jawa Tengah itu. Penelitian dimulai dari bentuk alat, warna bodi favorit, komposisi, kolaborasi, hingga harga per seatnya.
     Informasi yang didapat dari mereka segera kami tindak lanjuti. Pertama yang harus kami lakukan adalah mengajak kerja sama dengan pencari kayu bahan rebana serta pembubutnya. Maka, dengan bermodal foto produk daerah lain, terbentuklah bahan mentah rebana Mapsi yang siap digarap.

Spesifikasi Rebana Hadrah Mapsi
     Jamaknya rebana Hadrah versi Mapsi terdiri dari 4 rebana Hadrah, 3 Gendung (Bass, Bariton dan Tenor), 3 Kenthang-Kenthing-Kenthung (Kempling; Sopran), dan 1 buah Tamrien atau Markis.
     Belakangan inovasi Rebana Hadrah versi Mapsi semakin beragam. Beberapa sekolah di daerah tertentu ada yang memperkaya komposisi standar instrumennya dengan Gendang Remo Hadrah, Snare Drum Hadrah, Cymball Statis, Saron, Bass Guitar ataupun penambahan Keyboard. Namun ada juga yang justru merampingkan standar alatnya agar terlihat lebih seksi :).

Persaingan Bisnis
     Jamaknya sebuah bisnis maka akan ada persaingan baik mengenai harga maupun kualitas serta layanan lainnya. Disaat kami merasakan nikmatnya banjir pesanan rebana Mapsi dari sekolah-sekolah, maka industri lain pun ikut latah membuatnya.
     Mereka rupanya cukup jeli dengan menyebarkan banyak pengedar rebana, berkeliling langsung dengan sepeda motor dari sekolah satu ke sekolah lainnya, dari satu kota ke kota lainnya, hingga ke pelosok-pelosok di mana ada sekolahnya di sana. Harga yang mereka tawarkan pun cukup murah dan membuat belasan sekolah atau guru-guru pembimbingnya tergoda.
     Kami berfikir keras menghadapi situasi demikian, mengatur strategi agar konsumen tidak meninggalkan kami begitu saja.

Empat Varian Kualitas Hadapi Pesaing
     Mungkin Anda berfikir STB akan menurunkan harga. Tidak, kami lantas membuat empat varian atau alternatif kualitas dan harga untuk merangkul konsumen yang beragam. Yaitu kelas Koden (kualitas terendah atau murahan, seperti yang kerap diedarkan produk lain), Standar (Sedang), Super (Mahal), dan Exlusive (Termahal). Tiga kelas atau kualitas terakhir kami GARANSI selama satu tahun penuh! Sebuah terobosan yang tidak pernah dilakukan oleh pengrajin atau produsen rebana lain.
Lihat : Layanan Purna Jual
Pelajari lebih lanjut tentang : Alternatif Kelas dan Harga
     Alhamdulillah, perlahan strategi ini mulai memperlihatkan hasilnya. Pelanggan-pelanggan baru mulai berdatangan lagi untuk kembali memesan produk STB. Belakangan kualitas Koden alias murahan akhirnya tidak kami layani lagi...

Kamis, 20 September 2012

Pasar Rebana Hadroh | Jurus Barakah Kyai Bagian III

Booming Rebana Hadrah produk Solichin Toip berawal dari Pasar Ikan Penjaringan, Jakarta Utara
Suara Tunggal Bahana (STB) - Booming alat musik Islami Rebana Hadroh di berbagai daerah di Indonesia pada era 1999 menjadi berkah tersendiri bagi home industry STB, yang sudah lebih dahulu memproduksinya. Pesanan datang dari berbagai daerah, khususnya wilayah Jawa. Stb merasa kewalahan karena kebanyakan meminta dibuatkan lebih cepat dari waktu yang semestinya
 
Lambat laun pengrajin lain mulai menyadari keramaian pasar ini. Mereka kemudian ikut-ikutan memproduksi jenis Rebana yang sama. Keramain pasar Rebana Hadroh ini membuat persaingan harga dan kualitas menjadi lebih ketat dan keras.
 
Stb berfikir keras agar terus menjadi yang terdepan agar tetap menjadi prioritas produk berkualitas bagi calon pembelinya. Maka kami terus berbenah dan membuat strategi-strategi baru, baik mengenai kualitas, harga, hingga layanannya.
 
Yang kami hindari adalah tidak latah membanting harga hanya karena takut ditinggalkan konsumennya, tetapi kemudian kualitas dinomorduakan! kami memiliki prinsip dan keyakinan, bahwa pada akhirnya kualitas adalah yang menjadi pilihan utama mereka.

Ekspansi Pasar
Awal tahun 2000-an toko Rebana Pasar Ikan "Toko Setia", Jakarta Utara menjadi pilihan pertama pasar baru Rebana Hadroh. Sebelumnya kami sudah puluhan tahun (bahkan orang tua kami "Toip") adalah supliyer pertama di toko yang berada di seberang musium Bhahari tersebut. Barang yang kami isi sebelumnya antara lain Rebana Qasidah eceran, per set, dan Rebana Diba (Rebana Hadroh ukuran besar).

Alhamdulillah dalam waktu kurang dari 1 tahun Rebana Hadroh merek " Solichin Toip " sudah mulai dikenal luas di DKI Jakarta. Bahkan beberapa toko musik terdekat dan lainnya, DKI Jakarta dan sekitarnya dan Sumatra, juga ikut berbelanja produk Rebana Hadrah merek Stb dari toko kami tersebut.
 
Di luar Jakarta, Stb juga menggarap pasar lokal seperti wilayah Kabupaten Brebes, Tegal, Banyumas, Purwokerto, Purbalingga dan Banjarnegara. Bahkan untuk kota terakhir, Banjarnegara, 75 % lebih menggunakan produk Rebana Hadrah berbagai versi produk Stb. Hal ini berdasar pada catatan nota pembelian dengan alamat, desa, serta kecamatan yang hampir merata di Kabupaten Banjarnegara.

Atau teruskan baca Jurus Barakah Kyai Bag. IV 

Jumat, 14 September 2012

Rebana Terbaru Solichin Toip Bumiayu | Jurus Barakah Kyai Bagian II

Suara Tunggal Bahana (STB) - Kuningan adalah salah satu kabupaten di provinsi Jawa Barat, dengan beribukotakan Kuningan. Posisi astronomisnya di antara 108°23" - 108°47" Bujur Timur, dan 6°45" - 7°13" Lintang Selatan. Kabupaten ini terletak di bagian Timur Jawa Barat yang berbatasan langsung di sebelah Utara dengan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) di Timur, Kabupaten Ciamis di Selatan, serta Kabupaten Majalengka di sebelah Barat (wikipedia.org).
 
Iklimnya cenderung sejuk dan dingin. Stb pernah merasakan hidup di daerah ini selama kurang lebih 1 tahun lamanya. Juga pernah merasakan dinginnya angin malam di atas bangku kosong yang sengaja ditinggalkan pedagang di siang hari, di atas trotoar sisi Masjid Agung Kuningan, ketika dagang keliling menjajakan alat musik Rebana.
 
Yang demikian adalah pengalaman hidup yang luar biasa, setidaknya menurut Stb, demi mengangkat eksistensi Rebana yang hampir punah. Juga demi status ekonomi dan sosial keluarga Stb yang terpuruk, karena dampak krisis ekonomi global 1998.

Strategi Pemasaran
Dagang keliling memberikan memberikan banyak nilai positif_meskipun saat itu keuntungan dari dagangan yang terjual masih hanya cukup untuk makan dan akomodasi saja. Namun nilai keuntungan yang bersifat spiritual dan immaterial memiliki jumlah yang tak ternilai. Salah satu pengalaman pemikiran yang Stb dapatkan adalah adanya strategi baru dalam menjaring pemakai dan penikmat musik Rebana yang selama ini tidak Stb ketahui, yaitu pangsa pasar baru. Harap maklum, Stb bukanlah lulusan sarjana ekonomi ataupun jurusan kebisnisan.
Realitanya, perkembangan yang sedang terjadi di luar daerah, terutama di beberapa pesantren yang notabene sebagai basis seni Islam itu dikibarkan, ternyata berbeda jauh dari produk instrumen musik yang selama ini dibuat di daerah kami di desa Kaliwadas, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah
Dengan kata lain, jenis produk Rebana di Bumiayu di tahun 2000-an awal masih tidak banyak pilihan, yaitu hanya Rebana Srokal, Diba, dan Qasidah Samrah saja, Rebana Hadroh Banjari seperti produk Gresik dengan berbagai variasinya belum diproduksi. Peminatnya pun mayoritas orang tua, sehingga pangsa pasarnya sangat terbatas. Meskipun demikian, produk Rebana Qasidah tidak di temukan selain produksi dari Bumiayu.

Rebana di Era Presiden BJ Habibie dan Gus Dur 
Maka, prioritas ekspansi baru produk Rebana segera disusun dan kerjakan. Ketika pengrajin lain belum mengetahui dan memproduksi, Stb segera bekerja keras membuat Rebana Hadrah plus Kolaborasi Bass-nya yang sedang booming di pondok-pondok pesantren tersebut.
 
Strategi marketing pun segera dilakukan, meskipun dengan cara sederhana. Berhasilkah? Alhamdulillah, lambat laun nilai jual Rebana Stb mulai terangkat lagi. Para pembeli pun mulai berdatangan ke desa kami.
 
Maka, para penikmat alat musik Shalawat (Seller) yang kebetulan tidak langsung datang ke rumah kami, otomatis tetap akan menggunakan produk Stb juga, meski tanpa merek Solichin Toip. Karena pengrajin lain, khususnya toko-toko musik yang berada di pinggir jalan desa, tetap akan datang membeli produk Stb untuk melayani calon seller tersebut. Namun lambat laun mereka pun mulai membuat produk yang sama.
 
Booming Rebana Banjari ini terjadi di era Presiden ketiga BJ Habibie atau awal 1999 hingga dilanjutkan di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
 

Minggu, 09 September 2012

Kisah Jual Rebana Digendong dari Kampung ke Kampung | Jurus Barakah Kyai Bagian I

Suara Tunggal Bahana (STB) - Kisah berkah atau barokah menjadi pengrajin rebana sengaja dipublikasikan dalam rangka evaluasi dan dan sharing, dengan harapan suatu saat akan bisa diambil hikmahnya oleh kami sekeluarga. Tentunya kami juga merasa bersyukur jika pembaca yang menemukan artikel ini juga bisa merasakan hikmah dan manfaatnya.
 
Bisa disebut cerita ini sebagai Cerbung (Cerita Bersambung) dari perjalanan real kami, semenjak memperkenalkan nama dan produk alat musik STB kepada masyarakat luas, sampai dengan saat yang akan datang, insyaa Allah.
 
Imbas Krisis Moneter
Krisis moneter atau krisis ekonomi yang melanda dunia dan Indonesia pada tahun 1997 bukan saja membuat ratusan perusahaan besar gulung tikar, tetapi usaha kecil seperti produsen alat musik rebana pun ikut merasakan dampaknya.

Mayoritas orang tentu akan berpikir, " Lebih baik membelanjakan uang untuk membeli kebutuhan primer daripada mementingkan kebutuhan sekunder ( membeli dan bermain alat musik ). " 
 
Maka orang tua yang hanya memiliki usaha satu-satunya ini, akhirnya benar-benar ikut kollaps. Saya, Stb yang sesungguhnya masih haus menimba ilmu di pesantren, menjadi limbung dan memutuskan untuk keluar dengan tujuan membantu ekonomi keluarga. Cita-cita mencari ilmu setinggi langit pun terpaksa harus dikubur dalam-dalam!

Label Solichin Toip
Tahun 1998, setelah kurang lebih satu tahun membantu usaha orang tua dalam membuat alat musik Rebana, Genjring, atau Terbangan, Stb memutuskan untuk membuat dan memisahkan diri dari stempel orang tua " Toip ", dengan menambahkan nama sendiri di depannya. Maka jadilah merek " Solichin Toip " sebagai brand rebana Stb. 
 
Sebelumnya, sejak sekolah SMP 1987 an, sepulang sekolah sudah terbiasa membantu mereka dalam membuat alat musik Rebana. Sehingga tidak gamang ketika sambil membantu sekaligus belajar mandiri membuat dan memasarkannya sendiri pada tahun1992-1994. Meskipun saat itu pasarnya masih ikut menumpang kepada orang tua. Sayangnya di tahun-tahun tersebut pemakai dan penikmat alat musik Rebana belum merata ke seluruh wilayah Indonesia.
 
Keliling Kampung
Mengharapkan pembeli Rebana dengan kebesaran nama " Toip " di rumah saja tentu akan sulit berkembang. Maka Stb memutuskan untuk berkeliling kampung, memperkenalkan nama dan produk " Solichin Toip " ke semua lapisan masyarakat, dari pintu ke pintu, dari kampung ke kampung, dari kota yang satu ke kota yang lain, khususnya wilayah Banyumas, Jawa Tengah, Cirebon, dan Kuningan, Jawa Barat. 
Saat itu baru ada satu jenis alat Rebana yaitu Genjring Syrakal. Yaitu Rebana dan Terbang Jawa yang terdiri dari  4 buah Genjring (Rebana berdiameter 37-40 x 8-9 cm) dan 1 set Terbang Jawa Klasik (Kolaborasi Genjring yang dirakit menggunakan tali penjalin).

Lihat contoh Video Genjring Syrakal

Umumnya pendatang baru, Stb menemui banyak rintangan. Berjalan kaki berkilo-kilometer sambil menenteng dagangan yang cukup berat sampai kemalaman di jalan sehingga harus istirahat di sembarang tempat. Semua itu menjadi bagian dari cerita suka dan duka yang tak terlupakan. Namun Stb terus melakukannya dengan tanpa lelah dan selalu dipenuhi dengan doa dan harapan suatu saat pasti akan sukses.

-----o0o-----
 
Takdir Allah SWT kemudian menuntun Stb untuk bersilaturahmi ke guru yang sudah sekian tahun tak dikunjungi, di daerah Kuningan, Jawa Barat. Yaitu KH Uci Syarifudin dan KH Harun ar Rasyid. Tepatnya di Pondok Pesantren Salaf Raudlatut Tholibin. Alhamdulillah beliau berdua berkenan memberikan 'memo' agar Stb bisa bersilaturahmi dan membuat 'kesepakatan bisnis' dengan orang kepercayaan beliau berdua: al Ustadz Maksum
 

Kamis, 12 April 2012

Jurus Barakah Kyai Bagian VII : Apresiasi Trans7 dan RCTV Cirebon

shooting
Tahun 2010 adalah tonggak sejarah kerajinan alat musik produk Suara Tunggal Bahana (STB) berlabel Solichin Toip berada di puncak popularitasnya, setelah kurang lebih 12 tahun bersusah payah membangun imej terbaik dan berkelas di antara pengrajin lainnya_seperti halnya popularitas ayah kami, bapak Toip yang dikenal sebagai pengrajin rebana terbaik dari Bumiayu. Beliau dikenal bukan karena kuantitas dan