Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2013

Bumiayu Bershalawat

habib LutfiRibuan umat Islam memadati jalan Pangeran Dipenogoro depan Mesjid Agung Baiturrahim Bumiayu. Mereka datang  dari berbagai daerah, khususnya Brebes bagian Selatan. Sebuah acara yang diprakarsai oleh Polres Kabupaten Brebes bekerja sama dengan pengurus mesjid

Rabu, 06 Februari 2013

Hukum Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW

STBSuara Tunggal Bahana - Dalam Hadits Qudsi dikatakan:

لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ يَا مُحَمّد لما خَلَقْتَ الأَفْلَاك  

Artinya: Jika bukan karena engkau wahai Muhammad, tidak akan Aku ciptakan alam semesta ini.

لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ يَا مُحَمّد لما خَلَقْتَ الأَفْلَاك

Sumber: https://nu.or.id/khutbah/kelahiran-rasulullah-anugerah-terbesar-allah-h1rSb


___
Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/i
Bulan Rabi'ul Awwal atau populer disebut bulan Maulid telah memasuki hari yang ke 26.  Artinya bulan Maulid di tahun ini sudah di penghujung waktu, detik-detik akhir. Namun sebagai umat yang mencintai  pimpinannya  hendaknya kita tidak hanya bershalawat dan memuji-muji beliau pada bulan kelahirannya saja. Sepanjang hari dan bulan hiasilah hidup dengan shalawat. Tiada  hari tanpa shalawat, demikian yang pernah kami dengar dari seorang guru agama.
 
Setiap kali bulan kelahiran Rosulullah ini datang, kalangan pencinta Rasulullah marak menggelar acara Maulid. Dari yang sederhana seperti pembacaan maulid Ad-Diba, Barzanzi, dan kitab-kitab maulid lainnya, setiap hari di surau-surau, mesjid di Majlis Taklim, sampai yang besar-besaran seperti yang digelar di lapangan terbuka. Di acara ini dapat dipastikan kemarakannya selalu diselingi dengan shalawat dan irama rancak  rebana Hadrah, Qasidah sampai Marawis.
 
Namun yang sangat disayangkan, meski telah berlangsung ratusan tahun, belakangan muncul kelompok yang menentang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurut mereka, perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan pembacaan riwayatnya cenderung menjerumuskan umat Islam kepada pengkultusan, bid'ah dan lain sebagainya.

Allah SWT dan Para Malaikat Bershalawat kepada Rasulullah SAW
Rasulullah SAW sendiri memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa di hari kelahirannya yaitu hari senin. (Adakah kebaikan yang kita lakukan di hari kelahiran kita sendiri?)
 
Apa yang kita lakukan selama ini untuk menghormati Rasulullah SAW  belumlah mencukupi sebagaimana penghormatan yang dilakukan oleh Allah SWT (Sang Penciptanya) dan para Malaikat-Nya, seperti yang dimaksud dalam surat Al-Ahzab : 56 
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
" Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. "
     Penghormatan Allah dan para Malaikat-Nya adalah bentuk kebanggaan, pengagungan atau penghargaan kepada sosok Rasulullah karena akhlak dan budi pekertinya yang amat luhur. Sedangkan penghormatan kita kepada beliau adalah wujud pengucapan ' terima kasih ' atau pemuliaan karena jasa-jasanya dalam membawa Risalah Islam.

Memuliakan Rasulallah Tidak Bermakna Menyembahnya.
     Dalam surat Al-Insyirah ayat 3 disebutkan,  " Dan telah Aku tinggikan penyebutanmu. " 
Ayat tersebut memperkenankan kita mengagungkan Rasulullah selama tidak menyamakan kedudukannya dengan Sang Maha Tunggal Allah SWT. Pengagungan itu tidak boleh bertentangan dengan ketetapan Allah. Misalnya mengatakan bahwa Muhammad adalah anak Allah_seperti yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani_sebagaimana ditulis dengan cukup indah oleh Imam Bushairi dalam Maulid Burdah-nya ;
Dialah sosok yang sempurna makna dan bentuknya
Yang kemudian dipilih menjadi kekasih Sang Penghembus angin sepoi-spoi
Pengungkapan kebaikannya terjaga dari kemusyrikan 
Maka mutiara keindahan tak terbagi
Tinggalkanlah apa yang dikatakan kaum Nasrani tentang Nabi-nya
Dan pujilah ia (Rasulullah) semaumu asal masih dalam batasan hukum itu
Maka nisbatkanlah kemuliaan dan keagungan apapun yang kau kehendaki kepadanya


Ditulis dari berbagai sumber oleh Solichin Toip

Kamis, 17 November 2011

Hukum Rebana dalam Islam | Solichin Toip

kitab alBarzanji.
Suara Tunggal Bahana - Ide postingan ini berasal dari hasil ngalap berkah ke Pengasuh Pondok Pesantren PPM Darunnjat Bumiayu, Jawa Tengah KH. Aminuddin Masyhudi. Harapannya tentu semoga membawa manfaat bagi pembaca sekalian, khususnya pecinta alat musik Rebana. Aamiiin...
     " Jika kamu menadapatkan pesanan dari rekanan bisnismu, tapi kemudian dia menjualnya dengan membohongi pembeli soal harga, kualitas atau lainnya, maka janganlah kamu ikut-ikutan mendukung kebohongannya....
Niat kamu membuat dan menjual rebana adalah dalam rangka mengikuti sunnah Rasulullah SAW yang notabene di dalamnya dibacakan Shalawat Nabi.... " demikian antara lain inti nasehat beliau.
 
 
Hadits Tentang Rebana
     Kemudian beliau mengeluarkan sebuah kumpulan kitab karangan Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari yang berisi 19 kitab. Salah satu di antaranya tertera nama kitab Tanbihaatul-Waajibaat. Di halaman 16 tertulis Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi: 

(فى الأصح)  لخبر الترمذى وابن حبــان انـه صلى اللـه عليـه وسلـم لمـا رجـع الى المـديـنة من بعـض مغـازيـة قـالت لـه جـاريـة  سـوداء اني نـذرت ان ردك اللـه سـالمــا أن اضـرب بيـن يـديـك بالدف فقـال لهـا ان كـنت نذرت فأوفي بنـذرك وهذا يشهـد  لبحـث الـبلقـينى أن ضـربـه لنحـوقـدوم عـالـم أو سلطـان لاخلاف فيـه.....
 
" Diceritakan dalam Hadits Shahih Imam Turmudzi dan Ibnu Hibban r.a., bahwa sesungguhnya ketika Rasulullah SAW kembali ke kota Madinah dari salah satu peperangan dengan kaum kafir ( Perang Uhud ) seorang budak perempuan berkulit hitam datang menjumpai beliau dan berkata: " Ya Rasulallah, sesungguhnya hamba telah bernadzar ( bersumpah ) bahwa jika Allah mengembalikan hamba dari peperangan ini ( Uhud ) dengan selamat maka hamba akan memukul rebana di hadapan Tuan. " Maka Rasulullah bersabda kepadanya: " Jika kamu telah bernadzar demikian maka laksanakanlah nadzarmu. Sesungguhnya memukul rebana untuk menghormati kedatangan seorang alim atau pemerintah itu tidak ada pertentangan di dalamnya ( bukan khilafiyah )..."  
 
Wallaahu a'lam.
Nara Sumber: 
KH. Aminuddin Masyhudi
Pengasuh PPM. Darunnajat
Pruwatan, Bumiayu, Jawa Tengah
dari Kitab at-Tanbihaatu-l-Waajibaat  Hal : 16
Kumpulan kitab karya :
Hadratus-Syaih KH. Muhammad Hasyim Asy'ari
(Pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng dan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama)